Oleh: kidaushusaini | Juli 29, 2010

Tidak Mudah Mempertahankan Kesadaran

“Sesungguhnya yang menjadi bagianmu hanyalah sebatas

kadar kesadaranmu. Maka janganlah kamu menyembunyikan

kebaikan, sebab nanti Ia pasti akan ditampakkan.”

(Abu Bakar Ash-Shiddiq radlyallahu ‘anh)

Sari pati kesadaran adalah hidayah. Yaitu petunjuk jalan dan cahaya yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki. Secara otoritas, hidayah merupakan hak mutlak Allah SWT yang diberikan kepada siapa yang a tentukan.

Tapi hidayah juga harus didapat dengan proses pencarian. Maka kesadaran adalah hasil, tapi sekaligus juga proses.

Allah berfirman, “Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dan gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Maidah : 16).

Kalimat, “yang mengikuti keridhaan-Nya” menunjukkan bahwa hidayah itu harus dicari, diikuti, diminta dan dimohonkan. Meskipun secara otoritas adalah milik Allah SWT. Tapi harus ada keinginan dan kita untuk mendapatkannya. ltulah proses.

Dan segi proses inilah, kesadaran ada dua macama. Pertama, kesadaran pencarian. Kedua, kesadaran pencerahan. Atau, “kesadaran menuju”, dan “kesadaran kembali”. Kesadaran pencanian adalah kesadaran yang proses dan hasilnya dilakukan seseorang sebelum memulai sebuah pilihan.

Sedang kesadaran pencerahan, disebut juga kesadaran perbaikan, adalah proses dan hasil kesadaran yang dilakukan seseorang untuk kembali ke jalan yang baik.

Bagaimana kesadaran ini dapat kita lihat didunia nyata dahulu dan sekarang ini ?.

Dahulu, di kota Madinah yang mulia, kesadaran sosial mewujud pada banyak sosok. Mungkin kita pernah mendengar kisah Ali Zainal Abidin rahimahullah. Tokoh tabi’in yang terkenal karena sikap pedulinya terhadap anak yatim, fakir dan miskin dan hamba sahaya. Diriwayatkan, ia membiayai kehidupan seratus keluarga miskin. Sebagian penduduk Madinah selalu menerima bahan makanan pada malam han yang digunakan untuk menjalani hidup mereka. Tapi setelah sekian lama, mereka tidak tahu dan mana makanan itu dan siapa yang membawanya.

Tiba-tiba saja, terdengar kabar wafatnya seorang shalih Ali Zainal Abidin yang kerap disebut sebagai As Sajjad karena banyak melakukan sujud. Dan han-han penduduk miskin di Madinah pun berubah, lantaran tak ada lagi makanan yang sampai ke depan pintu mereka di malam han. Sebagian penduduk mulai bertanya-tanya, kenapa mereka tidak mendapatkan makanan lagi? Mereka pun menyimpulkan kondisi itu dengan berkata: “Kami telah kehilangan sedekah secara diam-diam, karena Ali Zainal Abidin telah meninggal d u nia”.

Ketika itu, mereka mengetahui siapa sebenarnya orang yang memberi bahan makanan kepada mereka setiap malam dahulu. Dialah Ali Zainal Abidin yang setiap malam memikul bergoni-goni makanan dan roti lalu ia membagikannya ke rumah-rumah fakir miskin, seraya berbisik kepada dirinya, “Bersedekah secara diam-diam akan memadamkan api murka Allah.”

Kesimpulan tentang kesadaran Ali Zainal Abidin terhadap kesulitan yang ia saksikan pun dipertegas lagi dengan kondisi jenazahnya. Ketika ia dimandikan, bahunya terlihat mengapal sehingga menjadi perhatian banyak orang. Dan jawabannya, adalah bekas hitam di bahunya adalah karena ia sepanjang tahun, seningnya memikul bahan makanan untuk dibagikan kepada fakir miskin.

Itu sejarah kesadaran sosial yang terjadi ratusan tahun lampau. Seorang Ali Zainal Abidin telah menempatkan dirinya sebagai pemberi yang mungkin tidak terobsesi menenima. Dia bukan terjemahan dan konsep take and give yang banyak menjadi acuan orang zaman mi, di mana memberi harus memberi efek menerima. Kalaupun ada konsep memberi dan menerima dalam hati orang shalih seperti Ali Zainal Abidin, maka ia menerima hanya balasan yang Allah berikan kepadanya. Ya, seperti yang terlantun dan lisannya, “Agar Allah swt menghindarinya dan api kemurkaan.”

125. Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. dan Barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya[503], niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.

[503] Disesatkan Allah berarti: bahwa orang itu sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah. dalam ayat ini, karena mereka itu ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya Allah menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan, Maka mereka itu menjadi sesat.

Kesadaran ini dapat kita lihat pada diri kita sendiri :

  1. Kesadaran pada diri kita ketika menghadapi proses kenaikan kelas tahun pelajaran lalu
  2. Kesadaran pada diri kita pada saat kita melewati seleksi PPDB tahun 2010
  3. Kesadaran kita ketika menghadapi perubahan hidup
  4. dll

Sunggu semua ini dapat kita dapati dalam kehidupan kita.

Selain itu, Allah juga akan menambahkan kepada orang yang telah memllih kesadaran itu, petunjuk tambahan.

“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya.” (QS. Muhammad: 47).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: